Wednesday, April 11, 2018

Tingkatkan Publikasi Kecamatan, Camat Sumberpucung Bentuk Staf IT dan Media

Founder Sabda Inspirasi Bersama Camat Sumberpucung

Founder Sabda Inspirasi Bersama Camat Sumberpucung

Sabda Inspirasi - Guna menghadapi arus perkembangan teknologi dan informasi yang begitu masif, Pemerintah Kecamatan Sumberpucung tingkatkan komitmen pengelolaan IT dan Media Publikasi. Hal itu tergambar dari diskusi singkat Camat Sumberpucung, Moch. Sholeh dengan Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin, Kyai Abdullah SAM dan Founder Sabda Inspirasi Media, Chandra di Kantor Camat, Rabu (11/4/2018).

Diskusi hangat tersebut membahas banyak hal tentang peningkatan pengelolaan media dan sebagai sarana publikasi kegiatan-kegiatan. Moch. Sholeh menyatakan pentingnya publikasi sehingga pemerintah tingkat kabupaten, provinsi hingga pusat mengetahui apa saja yang telah kita perbuat. "Bagaimana kita bisa dikenal kalau publikasi ini tidak berjalan dengan baik", katanya.

Baca: Lomba Desa se-Kabupaten Malang, Pesantren Rakyat Menjadi Program Unggulan Desa Sumberpucung




Sumberpucung memiliki banyak potensi-potensi yang belum diketahui oleh khalayak luas. "Saya ingin bagaimana potensi-potensi itu bisa dikenal dan diketahui", pinta Sholeh.

Untuk itu dalam pertemuan singkat itu, Camat Sumberpucung sepakat untuk mengangkat Founder Sabda Inspirasi Media, Chandra sebagai staf di bidang IT dan Media Kecamatan Sumberpucung. Moch. Sholeh berharap dengan adanya staf IT dan Media, publikasi di Sumberpucung bisa meningkat.

"Saya ingin publikasi ini digenjot karena dengan hal itu kita bisa mengenalkan apa saja yang ada disini kepada dunia, utamanya potensi-potensi 7 desa di Kecamatan Sumberpucung", harap Camat Sumberpucung.

Penulis: Chandra
Publisher: Chandra Djoego

Tuesday, April 10, 2018

Lomba Desa se-Kabupaten Malang, Pesantren Rakyat Menjadi Program Unggulan Desa Sumberpucung

Lomba Desa se-Kabupaten Malang, Desa Sumberpucung

Lomba Desa se-Kabupaten Malang, Desa Sumberpucung

Sabda Inspirasi - Perlombaan Desa dan Kelurahan tahun 2018 Kabupaten Malang berlangsung di Gedung Anusopati Kota Malang, Selasa (10/04/2018). Kegiatan ini diikuti oleh seluruh desa yang ada di Kabupaten Malang. Dalam pemaparan, setiap desa beradu program-program dan perkembangan desanya masing-masing untuk mendapatkan predikat desa terbaik.

Menariknya, dalam tiap presentasi perwakilan desa memiliki cara tersendiri. Hal itu tercermin salah satunya presentasi yang dibawakan oleh Desa Sumberpucung, Kabupaten Malang.


Baca: Penyakit yang Semakin Parah, Tapi Justru Semakin Nikmat Dirasa


Desa yang dikepalai oleh Hartini itu membawakan program unggulan Pesantren Rakyat yang diasuh oleh Kyai Rakyat, Kyai Abdullah SAM.  Diikuti oleh semua perangkat seperti tim penggerak PKK, Ibu Camat, dan Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin, Desa Sumberpucung memberikan presentasi secara atraktif dan inovatif. 

Lomba Desa se-Kabupaten Malang, Desa Sumberpucung

Lomba Desa se-Kabupaten Malang, Desa Sumberpucung

Telah diketahui secara luas bahwa, Sumberpucung adalah salah satu desa yang heterogen dalam berbagai hal. Heterogenitas itu tergambar dari potensi perikanan, pertanian, perkebunan dan seni budaya. Pesantren Rakyat Al-Amin menjadi ujung tombak pelaksanaan program-program yang telah direncanakan bersama.

Dijadikannya Pesantren Rakyat Al-Amin sebagai program unggulan bukan tanpa alasan. Hal itu mengingat prestasi yang telah dihasilkan oleh pesantren yang berdiri sejak 2008 itu. Saat ini, Pesantren Rakyat telah menjadi rujukan pemberdayaan nasional. Kyai Abdullah SAM membenarkan hal tersebut.

Baca: Ngaji ala Jagong Maton: "Syukur"




"Pesantren Rakyat saat ini menjadi rujukan baik urusan seni, budaya, perekonomian, sosial, pemberdayaan, pendidikan murah, pengelolaan masjid dan musholla", jelas Abdullah.

"Informasi selebihnya bisa diakses melalui website kami di www.pesantrenrakyat.com", imbuhnya.

Dengan penyampaian yang telah dilakukan. para juri tampak antusias dengan Desa Sumberpucung. Setengah dari dewan juri ikut seperti dari Dinas Sosial dan Kesbanpol Kabupaten Malang iktu bergoyang bersama saat menyanyikan yel-yel.

Penulis: Chandra Djoego
Publisher: Chandra Djoego

Sunday, April 8, 2018

Penyakit yang Semakin Parah, Tapi Justru Semakin Nikmat Dirasa

Penyakit yang Semakin Parah, Tapi Justru Semakin Nikmat Dirasa

Penyakit yang Semakin Parah, Tapi Justru Semakin Nikmat Dirasa

Sabda Inspirasi - Berbicara mengenai penyakit, manusia cenderung menganggapnya sebuah keadaan yang tidak diinginkan dan sangat tidak membuat nyaman. Penyakit sangat identik dengan membuat penyandangnya menderita dan penuh dengan rasa siksa. Semakin parah..? semakin tersiksa juga.

Namun, ada satu jenis penyakit yang berbeda dengan yang lain. Ia seakan menyerang penderitanya secara gerilya, pelan-pelan tanpa siksa, tapi berdampak sangat buruk dan begitu berbahaya. Penyakit ini seakan-akan tak ada bahaya, bahkan justru membuat penderitanya terlena dengan kenikmatan yang fana.

Ya..! itulah Penyakit Hati.

Bukan sekedar sakit hati karena putus asmara, atau mantan yang sudah berkeluarga. Bukan sekedar sakit karena utang yang melanda, atau barang yang hilang entah kemana. Bukan sekedar sakit jiwa yang menggila, atau pengamen yang meminta secara paksa. Bahkan bukan sekedar sakit fisik yang jelas menyiksa, bahkan hingga bisa merenggut nyawa.

Baca: Gelisah Minat Baca Mahasiswa Menurun, Dua Mahasiswa Unikama Gagas Taman Baca Kampus


Penyakit hati cenderung membuat terlena penderitanya. Penderita yang mengidap penyakit hati yang semakin parah, malah bisa semakin merasa nikmat yang dirasa betah. Riya' dan sum'ah adalah dua penyakit hati yang sering melanda manusia, terutama kaum awam seperti saya.

Sederhananya, riya' adalah keadaan dimana kita merasa bahagia/bangga jika suatu amal yang kita lakukan dilihat orang. Kita melakukan ibadah dan amal baik, kemudian dilihat orang, kita merasa bangga dan berusaha menambah-nambahi amal tersebut karena berharap semakin dilihat oleh orang lain. Jika penyakit riya' menjangkiti hati, ketika semakin parah, penderita tidak merasa tersakiti bahkan cenderung 'ketagihan' dan nyaman dengan penyakit itu.

Sedangkan sum'ah adalah sama dengan riya' tetapi apa yang kita lakukan suka didengar orang. Yang kedua ini sama bahayanya dengan riya', sama-sama seakan gerilnya dalam hati kita. Kita melakukan suatu amal, lalu senang ketika didengar orang. Kita semakin bersemangat dan menambah-nambahi amal yang kita lakukan agar semakin didengar orang. Sama seperti riya', semakin parah semakin nikmat dirasa.

Kedua penyakit hati diatas adalah sebagian kecil dari banyak penyakit hati yang bisa menjangkiti, dan olehnya amal kebaikan akan ternodai.

Baca: Ngaji ala Jagong Maton: "Syukur"


Namun, bukan berarti kita berhenti untuk melakukan amal baik walau masih ada benih-benih penyakit hati itu. Yang harus kita lakukan adalah berusaha menghilangkan penyakit itu, bukan menghentikan amal baiknya. Walau memang susah, memang berat, pelan-pelan saja. Sambil memperbaiki amal yang kita lakukan, juga berusaha menghilangkan parasit-parasit amal yang bisa mengikis pahala. Jika kita berusaha, insyaAllah hati kita akan semakin terjaga. Terjaga dari berbagai penyakit hati dan parasit pahala amal yang menjangkiti.

Penulis sedang menempuh pendidikan S1 Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.



Penulis: M. Syauqi Hanif Ardani
Publisher: Chandra Djoego

Friday, April 6, 2018

Gelisah Minat Baca Mahasiswa Menurun, Dua Mahasiswa Unikama Gagas Taman Baca Kampus

Taman Baca Unikama

Taman Baca Unikama, Sabda Inspirasi

Sabda Inspirasi – Sekilas tampak aktifitas rutin mahasiswa berjalan seperti biasa di Kampus Orange, Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama). Namun, ada potret baru di salah satu sudut Kampus Multikultural itu. Tepat di salah satu tempat hotspot di depan Gedung Rektorat terdapat sebuah stan berisi tumpukan buku-buku yang tertata rapi. Saat dilihat dari dekat oleh tim redaksi, tempat tersebut adalah sebuah Taman Baca Unikama, begitu mereka menyebutnya, Selasa (24/03/2018).


Usut punya usut, Taman Baca Unikama (TBC) ini dicetuskan oleh dua mahasiswa Unikama yakni Dedi Hermawan dari Fakultas Peternakan dan Nanang Aditya Nugroho dari Fakultas Sains dan Teknologi. Munculnya gagasan mendirikan TBC itu berangkat dari turunnya minat baca mahasiswa saat ini.

Baca: Ngaji ala Jagong Maton: "Syukur"


"TBC diadakan tidak hanya untuk meningkatkan minat baca mahasiswa itu sendiri. Akan tetapi, saya berusaha untuk memperluas kebiasaan yang awalnya mereka terbiasa dengan berkumpul/berdiskusi pada malam hari dengan istilah 'ngopi' agar mereka juga terbiasa berkumpul pada siang/sore hari seperti sekarang di taman baca ini”, jelas Dedi.

“Taman baca mahasiswa ini tidak hanya diperuntukkan untuk satu komunitas atau golongan tetapi untuk seluruh warga kampus unikama”, imbuhnya.

TBC sekaligus mengajak mahasiswa untuk dapat berinteraksi dengan nyaman, layaknya anak sedang bermain di suatu taman. Membaca buku adalah salah satu cara meningkatkan wawasan pemahaman. Dalam kegiatan ini berbagai jenis buku tersedia meskipun dengan jumlah buku yang masih terbilang minim, mulai dari buku mata kuliah, novel hingga buku-buku pemikiran atau filsafat. 

Menurut informasi yang berhasil dihimpun oleh tim redaksi, taman baca ini diadakan setiap hari Selasa dimulai pukul 14:00 hingga 18:00. “Kegiatan perdana telah dimulai pada Selasa 13 Maret 2018”, ujar Riski Putra, Koordinatot Taman Baca Unikama.

Baca: Bijak Bermedia, PMII Ibnu Rusyd UNIKAMA Gelar "Jagongan" Jurnalistik


Salah satu pengunjung TBC, Lexi mengatakan kegiatan disini bukan hanya membaca saja. “Kita di sini juga dapat bercanda dan berdiskusi dengan teman-teman mahasiswa lintas fakultas”, tutur mahasiswa Fakultas FEB. 

Tidak hanya mahasiswa, tetapi para dosen juga antusias untuk sekedar nimbrung membaca dan diskusi bersama disana.

Dengan diadakannya taman baca ini diharapkan membangkitkan dan meningkatkan minat baca mahasiswa sehingga terciptanya mahasiswa yang cerdas dan selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu juga diharapkan menjadi wadah kegiatan diskusi mahasiswa.

Penulis: Ainun
Publisher: Chandra Djoego

Tuesday, April 3, 2018

Ngaji ala Jagong Maton: "Syukur"

Kyai Sableng, Kyai Rakyat, Abdullah SAM, Pesantren Rakyat
Kyai Sableng, Kyai Rakyat, Abdullah SAM,
Pesantren Rakyat
Sabda Inspirasi - Jadi manusia neriman (menerima apa adanya) dan syukur memang sulit, kebanyakan manusia adalah ngongso-ngongso atau ambisius dalam mengejar sesuatu yang tidak pasti. Berapa banyak orang jatuh kemudian tertimpa tangga hanya disebabkan karena mereka melakukan kejar-kejaran terhadap sesuatu yang semestinya tidak perlu dan kufur.

Misalnya saja waktu menjadi pengangguran bingung mencari pekerjaan, namun setelah mendapatkan gaji tetap malah tidak bersyukur, masih saja hatinya dikuasai sifat tomak dan serakah. Kemudian gaya hidupnya berubah total, mestinya andaikata beli mobil ya mobil biasa, tetapi karena gengsi akhirnya membeli mobil yang bagus dan rumahnya juga menyamai rumahnya pengusaha.

Akhirnya karena gajinya sudah habis, sedangkan kebutuhan operasional untuk memenuhi gaya hidupnya semakin tinggi, maka mulai ikut-ikutan judi togel, kemudian menjerumuskan dirinya ke rentenir, karena di bank konvensional sudah tidak bisa.

Baca: Tingkatkan Kapasitas Pendidik, Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin Ajak Guru Berbenah Diri


Tiba saatnya anak masuk sekolah lanjutan dan yang lainnya mulai beranjak kuliah, kebetulan pasangan hidup serta anak-anaknya sudah mengikuti cara hidup orang tuanya maka keluarga itu semakin keropos dalam ekonomi. Semakin uzur tidak semakin aman dan nyaman, justru malah sering dag dig dug dengan keadaan hidupnya sendiri.

Untuk itu kita sebagai makhluq spiritual perlu kiranya selalu mendekat pada tokoh-tokoh agama untuk mengerem nafsu-nafsu kita agar tidak menguasai diri kita. Perlu diketahui tugas nafsu adalah menipu manusia agar jatuh di kemudian hari, caranya adalah melalui janji-janji manis yang menggiurkan, yang pada intinya adalah jebakan.

Teringat pujian-pujian di mushola-mushola desa dengan judul tombo ati iku limang perkoro, di urutan nomor tiga dalam pujian tersebut adalah kumpulono uwong kang sholeh. Tombo ati yang nomor tiga ini memang paling mudah, murah dan gampang, cukup kita srawung, ketemu, kumpul, silaturahim barangkali sesaat saja insya Allah hati menjadi sejuk, karena akan dapat pencerahan-pencerahan dari Al-Qur’an dan hadits atau mungkin cerita-cerita orang soleh yang menyejukkan. Menjadikan hati ini tenteram dan tidak ngongso-ngongso.

Baca: Tasawwuf Institute, Ruang Inspirasi Pembelajar Sufi dan Filsafat Melalui Diskusi Warung Kopi


Ketika rasa syukur sudah ada pada dada kita, Allah berjanji akan melipat gandakan segala nikmat yang telah di berikan, dan jika kufur atau tidak syukur maka Allah berjanji akan menyiksa dengan siksa yang amat pedih. Mestinya di usia pensiun sudah damai, malah justru dipenuhi derita hutang, badan tidak sehat, keluarga tidak barokah dan sebagainya. Untuk itu mumpung belum terlanjur perlu kita kembali kepada jalan Allah Subhanahu Wata’ala. Amin.

Oleh: Kyai Sableng, Kyai Rakyat, Abdullah SAM,Pesantren Rakyat

Saturday, March 31, 2018

Tasawwuf Institute, Ruang Inspirasi Pembelajar Sufi dan Filsafat Melalui Diskusi Warung Kopi

Tasawwuf Institute, Ruang Inspirasi Pembelajar Sufi dan Filsafat Melalui Diskusi Warung Kopi

Diskusi Tassawuf Institute, Sabda Inspirasi

Sabda Inspirasi - Ditengah hiruk piruk ilmu pengetahuan yang semakin kompleks dan dinamis, manusia perlu asupan informasi untuk memperkaya khazanah keilmuannya sebagai upaya perwujudan insan ulul albab. Tasawwuf Institute merupakan forum kajian ilmiah yang memberikan kesempatan dalam mengembangkan pengetahuan secara mandiri, hangat, aktual dan responsif. 



Berawal dari perkumpulan mahasiswa di warung kopi ke warung kopi hingga terbentuknya sebuah komunitas pengembang literasi-diskusi. Istilah Tasawwuf Institute adalah pengejawantahan dari cendikiawan muslim agar para pemikir yang hadir dalam forum tersebut membentuk pribadi seorang sufi dan atau filsuf, berwawasan ilmiah dan amaliyah. Hal ini di dasari atas keresahan para kaum intelektual yang dengan sembrono mengembangkan ilmu pengetahuan tanpa berasaskan kajian-keislaman yang mendalam. Maka atas kesadaran itu terbentuklah komunitas kaum pembelajar ini. Kajian ini berkembang hingga menarik perhatian para dosen yang ikut serta dalam forum ilmiah ini.

Baca: Tingkatkan Kapasitas Pendidik, Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin Ajak Guru Berbenah Diri


Sebuah interpretasi dari filsafat islam abad 21 yang mengklasifikasikannya ke dalam 5 typologi salah satu diantaranya adalah kaum islam tradisionalis. Kaum ini terbentuk karena sebuah taqlid yang menjadi asas pemikiran (Asasun Nadzhoriyah) dalam menentukan segala sesuatu. Kaum tradisionalis memiliki kesamaan dengan kaum fundamental dalam peregang teguh pada Nash (Al-Qur’an dan Hadist) akan tetapi sebagai pelengkap penentuan hukum, maka kaum tradisionalis melibatkan ‘aqal (ijma’ dan qiyas) bahkan tidak jarang kaum ini selalu merujuk pada referensi ulama-ulama terdahulu yang menjadi pijakan. 

Akan tetapi tipologi pemikiran ini sering mendapat hujatan dari kaum modernis dan reformis, karena model pemikiran yang dibangun oleh Islam tradisionalis terkesan menghambat kemajuan suatu bangsa karena keseragaman pemikiran yang mengikat pada suatu asas tertentu (taqlid). Senada dengan kaum postrad bahwa kaum tradisionalis selalu bersikap eksklusif, determinan dan selalu menafikan pola pemikiran terbaru.

Baca: Bijak Bermedia, PMII Ibnu Rusyd UNIKAMA Gelar "Jagongan" Jurnalistik

loading...

Dengan segala dinamika pemikiran filsafat di abad 21 ini tentunya perlu kedewasaan sikap bahwa kebenaran dalam sebuah ideologi merupakan hak setiap manusia. Jika kebenaran itu tunggal maka dunia ini akan terasa sepi tak berwarna. Dan keberagaman pemikiran menjadi Rahmat dimana setiap manusia tidak saling melaknat.

Sampai saat ini kajian ilmiah Tasawuf Institut masih terus berlanjut. Kajian ini rutin dilaksanakan tiap minggu sekali dengan pembahasan tema yang berbeda. Kegiatan terakhir dengan tema Anomaly Kaum Tradisionalis berlangsung di MPP Coffee Kota Malang, Sabtu (24/03/2018). Diskusi tersebut diikuti oleh puluhan mahasiswa dan beberapa dosen.

Penulis: Aditya M. Noor (Tasawwuf Institute)
Publisher: Chandra Djoego

Thursday, March 29, 2018

Tingkatkan Kapasitas Pendidik, Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin Ajak Guru Berbenah Diri

Kyai Abdullah SAM, Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin Ajak Guru Berbenah Diri, Sabda Inspirasi

Kyai Abdullah SAM, Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin Ajak Guru Berbenah Diri, Sabda Inspirasi

Sabda Inspirasi - Dewan pengajar Pesantren Rakyat Al-Amin mengikuti peningkatan kapasitas guru yang digelar oleh pengurus yayasan. Kegiatan rutin ini berlangsung di Gedung PAUD Al-Amin, Kamis (29/03/2018).

Peningkatan kapasitas ini berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Pada kesempatan ini, seluruh dewan pengajar mulai dari TPQ, Madrasah Diniah, PAUD/TK dan SD yang berada dibawah naungan Yayasan Pesantren Rakyat Al-Amin mengikuti kegiatan dengan antusias.

Narasumber kegiatan adalah Kyai Abdullah SAM, Pembina Yayasan dan Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin. Ia menekankan kepada dewan guru untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri.

Baca: Resmi! Pesantren Rakyat Al-Amin Mengadakan Pelatihan Silat Pagar Nusa Rutin Tiap Akhir Pekan



Dalam penyampaiannya, Kyai Abdullah memberikan wawasan bagaimana menjadi seorang pendidik yang baik. Menurut alumnus UIN malang itu, seorang guru hendaknya mampu berkomunikasi dengan baik, utamanya kepada murid atau santrinya. 

Seorang pendidik itu harus menguasai komunikasi. "Paling tidak para guru menguasai tiga elemen mendasar komunikasi yakni bagaimana menjadi seorang komunikan, komunikator dan penyampai pesan yang baik", jelas Abdullah.

Selain itu, dengan mengutip sebuah hadits, man arofa nafsahu fakod arofa robbahu, Kyai Abdullah mengajak seluruh peserta untuk terus memperbaiki diri. Seorang guru yang jarang melihat kekurangannya sendiri maka mereka akan merasa sombong. "Selesaikanlah dirimu sendiri dulu", tegasnya kepada para guru.

"Guru adalah wakil Allah", imbuhnya.

Ketika menyampaikan ilmu kepada murid dan kemudian muridnya sulit menerima sesungguhnya bukan muridnya yang sulit tetapi diri kita sendiri. "Murid adalah cerminan dari guru itu sendiri", jelas Kyai Rakyat itu.

Dirinya mengumpamakan seorang guru seperti sebuah saluran. "Jika dalam sebuah saluran air ada kotoran maka saluran tersebut akan menjadi kotor juga", ungkapnya.

Baca: Bijak Bermedia, PMII Ibnu Rusyd UNIKAMA Gelar "Jagongan" Jurnalistik

loading...

Hal itu turut menjadi bahan refleksi para guru. Menurut salah satu guru, perbaikan mendasar untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah dari diri sendiri. "Sebelum kita memberikan Ilmu kepada murid-murid, kita harus memperbaiki diri sendiri dulu", tutur Inayah.

Sedangkan Kepala PAUD Pesantren Rakyat Al-Amin, Firza mengatakan para guru harus ikhlas saat memberikan ilmu kepada anak-anaknya. "Perlu membiasakan hal-hal baik setiap harinya", katanya.

Diakhir sesi yang pertama, Kyai Abdullah mengingatkan para guru untuk tidak lupa berdoa saat mengajar. "Sisakan waktu untuk berdoa. Doa apa saja insyaallah dikabulkan", tutupnya.

Penulis: Chandra Djoego
Publisher: Chandra Djoego